Bagaimana Batasan Ukuran Najis Sedikit Yang di-Ma’fu ?

Batasan ukuran najis yang sedikit yang di-ma’fu dalam syariat adalah dikembalikan kepada ‘Urf, yaitu menurut standar manusia pada umumnya tatkala memandang hal itu sedikit dan tidak menjijikkan. Berkata ibnu ‘Utsaimin rahimahullah : قال ابنُ عثيمين: (المعتبَرُ ما اعتبره أوساط النَّاس؛ فما اعتبروه كثيرًا فهو كثيرٌ، وما اعتبروه قليلًا فهو قليلٌ). ((الشرح الممتع)) (1/272). Patokannya adalah […]

Apakah Disyaratkan Adanya Niat Dalam Menghilangkan Najis ?

Tidak disyaratkan niat untuk menghilangkan najis. Ini merupakan kesepakatan madzhab yang empat, dari kalangan Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah, dan merupakan ijma’ para ulama’. Berkata Al Mawardi Rahimahullah: (1/87) ((الحاوي الكبير))  (فأمَّا طهارة النَّجس فلا تفتقر إلى نيةٍ إجماعًا) “maka adapun berkenaan dengan membersihkan najis maka tidak membutuhkan hadirnya niat, (ini pendapat) secara ijma”. (Al […]

Hukum Menghilangkan Najis

Wajib hukumnya menghilangkan najis, ini merupakan madzhab mayoritas dari kalangan Hanafiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah dan Malikiyyah. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala: وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ [المدثر: 4]. “dan pakaianmu maka sucikalah” (al-Muddatstsir: 4) عن عبد الله بنِ عبَّاس رَضِيَ اللهُ عنهما قال: ((مرَّ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم على قَبرينِ، فقال: أمَا إنَّهما ليُعذَّبان، وما يُعذَّبان في […]

Hukum Meminta Tolong Orang Lain Dalam Ber-Istinja’ Tatkala Tidak Mampu

Barangsiapa yang tidak mampu sama sekali untuk beristinja’ sendiri, maka dia harus meminta tolong orang lain untuk membantunya yaitu orang yang boleh untuk melihat auratnya (istri, suami, anak dan lainnya). سُئِلَت اللجنةُ الدائمةُ: هل يجوزُ أن يقومَ بتنظيفِ المريضِ ورؤية عورَتِه ممرِّضاتُ المستشفى؛ لاستحالة قيامِ ذلك بنفسه؟ فأجابت اللجنة: (يجوز اطِّلاعُ الممرِّضةِ على عَورَتِه عند […]

Hukum Menggunakan Bejana Atau Perabot Orang Kafir

Boleh hukumya menggunakan bejana atau perabot orang kafir, ini merupakan madzhab mayoritas ulama’ dari kalangan Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah. Mereka berdalilkan: عن جابرٍ رَضِيَ اللهُ عنه قال: ((كنَّا نغزو مع رسولِ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فنُصِيبُ مِن آنيةِ المُشركين وأَسقيَتِهم، فنستمتِعُ بها ولا يَعيبُ ذلك عليهم ((رواه أبو داود (3838)، وأحمد (15095)، صحَّحه النووي في […]

Hukum Menggunakan Perabot Emas Atau Perak Selain Untuk Makan Dan Minum

Para Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Mereka terbagi menajdi dua pendapat: Pendapat yang kuat bahwa larangan ini khusus untuk makan dan minum saja. Adapun penggunaan keduanya di luar untuk makan dan minum seperti untuk hiasan, tempat wewangian, celak, wudhu dan mandi serta yang lainnya maka itu diperbolehkan. Ini pendapat sebagian Ulama diantaranya imam asy-Syaukâni […]

Bolehkah Makan Dan Minum Dengan Perabot Emas Dan Perak ?

Tidak boleh hukumnya makan dan minum menggunakan perabot dari emas ataupun perak, hal ini berdasarkan kesepakatan empat madzhab dari kalangan Hanafiyyah, Malikiyyah, Asy Syafiyyah Dan Hanabilah. Hal ini berdasarkan dalil: عن عبدِ الرَّحمنِ بنِ أبي ليلى ((أنَّهم كانوا عند حُذيفةَ فاستسقى، فسقاه مجوسيٌّ، فلمَّا وضَع القَدَحَ في يدِه رماه به، وقال: لولا أنِّي نهيتُه غيرَ مرةٍ […]

Apakah Air Musta’mal Bisa Digunakan Untuk Bersuci ?

Air musta’mal adalah tetesan air yang jatuh dari anggota tubuh ketika wudhu maupun mandi besar. Berkata Syekh Ibnu Utsaimin Rahimahullah: ( 1/36 ) ((الشرح الممتع)) الاستعمالُ: أن يمرَّ الماءُ على العُضوِ، ويتساقَطُ منه، وليس الماءُ المستعملُ هو الذي يُغتَرَف منه. بل هو الذي يتساقَطُ بعد الغَسلِ به “air musta’mal adalah air yang melintasi anggota tubuh […]

Sikap Yang Harus Diambil Ketika Ragu Terhadap Status Air, Apakah Najis Atau Suci ?

Barangsiapa yang ragu tentang status air apakah suci atau najis, maka dia kembalikan keyakinannya pada hukum asal air sebelumnya. Apabila sebelumnya dia meyakini air tersebut suci kemudian muncul keraguan tentang najisnya air tersebut, maka dia boleh menggunakannya. Karena dalam hal ini hukum asal airnya suci. Namun apabila sebelumnya dia meyakini bahwa air tersebut telah najis […]

Air Yang Bercampur Dengan Benda Suci, Bagaimana Hukumnya ?

Air mutlaq apabila berubah sifatnya karena bercampur dengan benda suci seperti, minyak, tanah, dedaunan dan lain sebagainya yang tidak menyatu dan tidak melebur dengan air, maka air tersebut statusnya tetap air thahur (suci dan mensucikan). Karena secara asal, status air itu tetap mutlaq dan tidak berubah. Adapun bercampurnya dengan benda suci yang tidak menyatu atau […]